Kisah Cinta Dibawah Pohon Cemara
Minggu-minggu ini aku merasakan
ada yang aneh dengan sikap Andre, tak biasanya dia memarahiku, menghiraukanku,
bahkan hampir menamparku. Wajahnya lain, tidak seperti Andre yang aku kenal.
Pancaran cinta dari matanya seolah padam. Aku berniat untuk menelusuri penyebab
berubahnya Andre. Seribu pertanyaan sudah memenuhi otakku, aku cemas jika ada
hal yang menyakitkan dibalik hal ini. Terbesit dipikiranku untuk membuntuti
setiap langkah Andre.
***
Hari
pertama ini, aku akan mengajak Andre ke tempat biasa kita mengadu cinta disana,
di taman dibawah pohon cemara. Awalnya Andre tidak mau, namun karena aku
memaksanya akhirnya dia setuju. Jam 9 aku sudah siap disana.
“Hay” sapa Andre dengan muka masam. Lalu ia duduk
disampingku
“Boleh aku tanya sesuatu padamu?” kataku pelan.
“Iya sayang” dia hanya senyum simpul
“Apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan?”
“Tidak ada, aku kan sudah bilang jika aku sibuk, kenapa kamu
masih gak percaya sama aku?” dengan datarnya ia menjawab.
“Ya sudahlah, aku percaya kog sama kamu” senyumku.
Tiittiiit tiiit
“Entar dulu ya, aku angkat telfon sebentar” dia menjawab
telefon dengan sedikit menjauh dariku.
“Maaf ya sayang, aku harus pergi sebentar, ada acara
mendadak” dia memelukku. Karena dia tahu itulah kelemahanku, saat aku
dipeluknya aku tak akan marah padanya, mungkin karena terlalu nyaman.
Dia lalu berlalu meninggalku, tanpa banyak kata, aku memulai
pengintaian, namun hari pertama ini tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Ia
beraktivitas seperti biasa. Aku senang, namun aku masih ragu, apa benar jika
tidak ada apa-apa denganya?
***
Hari kedua, ada sedikit
kejanggalan yang aku temui, saat aku diam-diam mengintainya, dia bertemu dengan
seorang perempuan berparas cantik di
sebuah kafe. Siapa dia? Client-nya? tapi mengapa harus ada adegan
cipika-cipiki? Mungkin agar lebih akrab kali ya? Tapi, ah rasanya tidak mungkin
jika itu hanya client-nya. Kejadian di kafe itu semakin memperkuat
kecurigaanku. Dan diperkuat lagi, ketika dia berbohong padaku, dia bilang jika
dia ada di rumah, tapi nyatanya dia sedang bersama perempuan itu di kafe.
Hatiku semakin tak karuan, kepercayaan yang aku miliki untuknya perlahan-lahan
terkikis oleh kebohonganya. Dengan hati yang galau, aku pergi ke taman tepatnya
dibawah pohon cemara itu, tempat yang selalu menerima segala ceritaku, tempat
yang menjadi tujuanku saat aku sedih. Di pohon cemara itu aku mengingat
semuanya, saat Andre menembakku, dan kita
berdua melukis nama kita dipohon, berharap hubungan kita akan selalu
tumbuh bersama pohon ini. Aku meluapkan segala emosiku kepada Andre disana, dan
tak terasa aku sudah meneteskan air mata disana. Bersama hembusan angin yang
merasuk jiwa aku terbang, menikmati hiruk pikuk kehidupan dengan cinta yang
mengambang.
***
Hari ketiga, aku
tidak bisa melakukan pengintaian karena tiba-tiba aku jatuh sakit, Andre tidak
terlalu memperdulikanku ketika mndengar bahwa aku sakit, dia seolah biasa saja.
Itu sudah cukup meyakinkanku bahwa sekarang memang sedang ada yang
disembunyikan oleh Andre. 3 hari setelahari ketiga, aku melakukan pengintaian
kembali, aku rasa tubuhku juga sudah bugar. Lagi-lagi pengintaian kali ini aku
melihat Andre jalan di mol bersama perempuan kemarin. Kecurigaanku semakin
menjadi-jadi. Mungkin benar jika Andre selingkuh. Tapi, aku harus menemukan
bukti lain, kalau hanya ini tidak cukup. Mungkin saja dia perempuan itu
saudaranya (?) aku merasa lelah dengan pengintaian ini, rasa curiga telah
mendomisi dihatiku, namun alangkah baiknya aku tidak gegabah dengan masalah
ini. Aku menelfon Sely, sahabatku, memintanya agar dia mau menemaniku nonton.
Hal itu mungkin akan membuatku terbebas dengan masalah ini sejenak.
“Sel, nonton yuk. Aku denger-denger filmnya lagi bagus”
“Maaf Lun, kayaknya gue gak bisa deh, mau nyelesain tugas
gue, besok harus sudah siap dipresentasikan”
“Eem ya sudah deh Sel, gakpapa kog, semngat ya, lanjutin
tugasmu, hehe”
Sely tidak bisa menemaniku kali ini, ya sudah satu-satunya
tempat yang bisa menjadi sandaranku adalah di taman itu. Jam menunjukkan pukul
3 sore, aku bersiap diri untuk pergi kesana mungkin sambil jalan-jalan sore
enak ya. Menikmati senja sendiri.
***
Ketika sampai ditaman, aku
tercengang, langkah kakiku terhenti, dari kejauhan aku melihat Andre disana,
dibawah pohon cemara. Sama siapa dia? Ternyata bersama perempuan yang sama yang
aku lihat selalu bersama dengan Andre. Aku penasaran, sedang apa mereka disana?
Mengapa ada setangkai mawar disana? Dengan mengendap-ngendap aku mencoba
mendekati mereka, berharap ada suara yang terdengar ditelingaku dan memperjelas
kecurigaanku selama ini.
“Kamu berjanji ya, selalu menemaniku kapanpun.” Kata wanita
itu
“Iya sayang aku aku janji” Andre menjawabnya. Ha? Sayang?
Berarti? Apakah perempuan itu selingkuhanya? Yang benar saja! Aku terus meracau
dalam hati.
“Terus bagaimana dengan Luna? Kapan kamu akan putus
denganya?”
“Secepatnya sayang” Andre membelai rambut ikal perempuan
itu, lalu menyelipkan bunga di telinganya dengan berkata “I love you sayang”.
Perempuan itu membalas dengan pelukan mesra kepada Andre lalu mengatakan hal
yang sama.
Aku tidak tahan melihat mereka berdua, kecurigaanku selama
ini sudah terjawab. Tanpa pikir panjang aku menghampiri mereka. Muka Andre
menciut ketika melihatku disana, dan perempuan itu juga terlihat ketakutan. Aku
berdiri tepat di depan Andre, lalu berkata “Seharusnya kamu tidak perlu
menyembunyikan semuanya dariku ndre, seharusnya kamu jujur padaku jika kamu
selingkuh. Kenapa kamu tega melakukanya? Bukankah di tempat ini kita pernah
berjanji akan selalu bersama? Dan cinta dihatimu akan selalu tumbuh seperti
pohon ini untukku? Kenapa kau mengingkari janjimu? Karena bosan? Karena kamu
suda tidak nyaman denganku? Mungkin jika kau mengetahui bagaimana sulitnya
diriku menjadi yang terbaik untukmu kau akan menyesal. Tenang saja, aku tidak
akan marah kog, aku hanya ingin membuatmu bahagia meskipun tidak bersamaku.Dan
kamu, tenang saja, aku dan Andre sudah tidak ada hubungan apapun kog, aku
doakan kalian semoga bahagia” aku tersenyum, dan tanpa kusadari, sebulir air
mataku telah menetes dihadapan mereka. Aku mengusapnya, lalu beranjak pergi.
Sepanjang jalan, air mataku tak tertahankan. Aku duduk di bangku dekat air
mancur. Bersama derasnya air pancuran ini aku menangis. Setelah kurasa cukup
tenang, aku memutuskan untuk pulang.
***
Senja berikutnya aku pergi ke
taman dibawah pohon cemara itu, mencoba mengingat apa yang terjadi disana.
Tempat ini telah menjadi saksi bisu perjalanan cintaku bersama Andre. Awal yang
menyenangkan hingga akhirnya kenyataan pahit yang aku telan. Sangat indah,
bekas pelukan hangatnya selalu mengiringku setiap saat. Ayunan dedauan yang
tertabrak angin yang hangat menimangku dalam kesendirian. Senja yang akan
hilang seolah memberiku semangat melalui cahya kecil yang masih tersisa. Aku
sangat menyukai keheningan, karena pada saat itulah aku mengerti siapa diriku
sebenarnya. Namun aku sangat takut dengan kegelapan karena dalam kegelapan aku
takut jika cahaya tidak akan terlihat kembali. Sekarang aku sadar, bahwa cinta
bukan sekedar dua tangan yang bergandengan. Namun cinta yang sebenarnya adalah
cinta yang ada di diri masing-masing. Cinta tidak menuntut untuk terbalaskan.
Melainkan untuk dinikmati bersama hari. Syukurilah cinta yang dikaruniakan
untukmu meskipun itu menyakitkan sekalipun. Tidak ada gunanya kau mengemis
cinta kepada orang yang kau cintai, karena cinta tak akan bisa dipaksakan
apapun alasanya. Terimalah apa yang menjadi milikmu sekarang, jika kau
mencintainya kau pasti akan merasa bahagia jika melihatnya bahagia walau tak
bersamamu. Kenalilah apa itu cinta dan apa itu keras kepala. Jagalah cinta yang
masih tumbuh dihatimu, nikmatilah dalam kesendirian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar