Sabtu, 23 Januari 2016
Aku berharap suatu saat nanti kau akan mengerti, bagaimana hebatnya rasa ini, bagaimana hebatnya wanita hina ini. yang masih menyebut namamu saat kau menyebut nama wanita lain. memang semua ini bukan salahmu, semua ini salahku yang terlalu percaya denganmu aku tahu kau bosan, bosan dengan ocehan yang keluar dari muluku ini. aku tahu rasa ini sudah tak berguna. tapi hati ini terus menyebut namamu, bagaimana bisa aku melawanya? hatiku telah dipenuhi dirimu. mencintaimu dalam diam. hanya itu yang bisa aku lakukan. maaf jika aku terlalu berlebihan dalam rasa ini. tapi inilah diriku, dengan seribu perasaan ini. ini adalah perasaan suci yang dikaruniakan untukku. maaf, aku terlalu mencintaimu.
Sayangku, musuhku
tenang saja, cerita ini hanya fiksi belaka, tidak nyata, yaaa mungkin ada sebagian yang nyata :v maaf jika ada yang tersinggung dalam cerita ini. cerita ini hanya aku karang kog, beneran.
Sayangku Musuhku
Namaku adalah Regina, biasa
dipanggil “Rere” atau “Siput” yaaa mungkin karena aku sering terlambat atau
sering tak selesai-selesai jika mengerjakan sesuatu. Makanya, julukan itu
diberikan padaku. Aku memiliki seorang kekasih bernama Randy. Kami berpacaran sejak
kelas dua SMA. Dan sekarang aku menginjak semester 2 di UNIVERSITAS Negeri
dikotaku. Waktu SMA hubunganku baik-baik saja. Seperti kupu-kupu yang sedang
bertemu pasanganya, menari kesana-kemari mengarungi indahnya dunia berdua.
Namun, lambat laun setelah kami terpisah oleh jarak semuanya berbeda. Banyak
batu-batu besar yang bertebar dalam jalan kami.
Sudah 30 menit aku menunggu, tak
seperti biasanya aku hanya menuggu 10 menit di halte ini. Tiba-tiba Randy SMS.
“Maaf, aku lagi malas keluar. Aku tidak bisa menjemputmu.”
“Iya gakpapa” balasku singkat.
Mulai saat itulah timbul
kecurigaan dibenakku. Namun hati ini terus menangkal kecurigaan itu.
Kepercayaan padanya yang masih kuat melekat dihatiku.saat kejadian itu aku dan
dia lost contact. Sudah dua hari kami tidak bertukar kabar. Aku resah, aku coba
untuk sms dia dulu.
“sayang bisakah kita bertemu?”
Aku kira dia akan membalasnya dengan cepat, namun dugaanku
salah. Malamnya, baru ia balas. Dengan kata yang paling menyakitkan yang aku
dengar.
“aku mengundurkan diri” kata penuh makna bukan? Kau
mengerti? Seketika air mata tumpah di pipiku. Aku terus mengelaknya, memoohon
pada dia agar kembali padaku. Aku tak mengerti apa yang telah aku lakukan. Aku
sungguh tak mengerti. Aku terus meronta-ronta, menelfonya, sms dengan kata
memohon-mohon, namun semua itu diabaikanya. Apakah dia benar-benar
meniggalkanku sendirian? Dengan luka yang ia berikan?
****
Dua hari setelah aku putus
denganya, aku masih berduka. Berlarut-larut dalam kesedihan yang mendalam. Tak
henti-hentinya air mata ini terus keluar. Saat malam tiba, temanku vivi datang,
dia bilang jika hari ini akan tidur denganku, di kos-kosan yang tak jauh dari
rumahnya. Dan ketika aku membuka laptop untuk mengerjakan tugas yang diberikan
oleh dosen, tiba-tiba vivi membuka situs fb dan mendapati bahwa foto profil
Randy sudah diganti dengan wanita lain, sontak tubuhku bergetar, aku benar-benar
shock. Aku tergeletak lemas dilantai, vivi yang takut dengan keadaanku
kebingungan. Dia berlari mengambil air minum dan mengipasiku. Lalu ia mencoba
menghiburku dengan kata-kata yang baik tentang randy tentunya. Aku tak
menghiraukan vivi, fikiranku saat itu tertuju pada wanita yang di foto
profilnya. Siapa wanita itu? Kekasihnya? Jadi selama ini? Randy berubah karena
wanita itu? Aku harus mencari tahu siapa dia! Aku menyuruh vivi untuk
meninggalkan aku sendiri, namun dia tak mau, dia takut dengan keadaanku. Dia
menemaniku hingga aku tertidur.
Paginya ada jam kuliah. Aku
berangkat dengan hati yang tercabik-cabik. Kesehatanku down, typusku kambuh.
Namun aku paksakan untuk berangkat, alhasil vivi membawaku ke pusat kesehatan
di kampus ini saat aku ditemukan pingsan di depan pintu. Dengan cemas, vivi
lalu mengantarku pulang. Aku meminta vivi untuk mencari siapa wanitanya randy.
Namun vivi berkata “sudahlah re, lupakan saja wanita itu, yang salah bukan
wanita itu, tapi Randy! Jika Randi orang baik pasti tidak akn lakukan ini
padamu kan?”
Aku sama sekali tak meresapi kalimat vivi. Randy tidak
salah! Wanita itu yang salah! Kenapa dia datang! Apa dia gak punya harga diri?
Sudah tahu randy sudah punya pacar!
****
Malamnya, aku menemukan siapa
wanita itu! Namanya Dea! Aku benar-benar
tak mempedulikan kesehatanku saat ini, fikiranku hanya tertuju pada dia. Tanpa
piker panjang aku mencaci makinya di messenger fbnya. Dia membalas, membalas
dengan kata-kata yang baik. Sok polos! Fikirku. Aku terus ebrpikiran negative
kepada wanita itu. Satu kata yang masih terngiang-ngiang di kepalaku adalah
“oke, aku akan menjauh dari Randi!” Ha?
Menjauh? Paling juga omdo! Tiba-tiba randy menghubungiku dan mengajakku untuk
bertemu. Ada apa ini? Seperti mimpi saja.
****
Aku menunggunya di taman dekat
kampus. Tak berapa lama, Randy menghampiriku, lalu duduk disampingku, tanpa
basa-basi Randy berkata
“Re, aku mohon padamu jangan ganggu Dea, aku tidak minta
apa-apa padamu, hanya itu saja, tolong jangan ganggu dia”
Aku menunduk terdiam, apa? Jadi Dea telah mengadu pada
Randy? Dasar wanita murahan! Aku memandangi Randy dengan pancaran cinta
dimataku.
“Tapiii, kenapa kau tega melakukan iniii. Aku masih
mencintaimu Ren”
“Benarkah? Jika kau benar mencintaiku, biarkan orang yang
kau cintai ini bahagia dengan orang lain”
“kenapa! Kenapa kau tega perlakukan aku seperti ini ren,
kenapa! Apa salahku padamu?” sebulir air mataku menetes di pipi.
“ kau mau tahu? Karena aku sudah tidak mencintaimu!” randy
lalu pergi, pergi dengan kata yang sangat menyayat hati.
Aku pulang, sepanjang jalan aku
meneteskan air mata. Pulang dengan hati yang sudah tak berbentuk. Aku kirimkan
messenger pada wanita itu lagi. Seperti biasa aku mencaci makinya. Aku
tersentak kaget saat dia membalas “kenapa? Kenapa kalau aku sayang randy? Kamu
gak terima! Iya! Jangan iri deh sama gue! Gara-gara randy lebih milih gue
daripada lo! Jangan kayak wanita gak laku deh!”
Feelingku benar kan? Dia serigala
berbulu domba! Saat aku mncaci makinya lagi, tiba-tiba randy sms “kasihan alisa
Re, dia tidak salah. Kenapa kau selalu memarahinya? Dia hanya diam kan padamu?
Kurang baik apa dia untukku? “
Apa maksudnya sms Randy ini? Diam?
Alisa hanya diam? Sekarang aku mengerti bahwa wanita murahan itu telah menjadi
serigala didepanku dan menjadi domba di depan randy! Arrggh! Wanita itu!
Aku sudah tidak tahan dengan
sikap dea. Aku mengajaknya bertemu di sebuah kafe, awalnya ia tidak mau, mugkin
karena takut namun ketika aku menyebutnya cepu akhirnya dia setuju. 10 menit
menggu alisa tidak kunjung dating, vivi yang cemas denganku mencoba meluncurkan
senyum yang terpaksa itu padaku. 20 menit kemudian, dea dating, dengan dandanan
menornya. Uuuh kampungan banget! Aku menatapnya tajam, diapun begitu,
“hey perempuan murahan! Maksudmu apa! Ganggu-ganggu pacar
orang! Gak laku ya!” tanpa basa-basi aku keluarkan kata terpedas dari mulutku.
“heh! Kenapa lo nyalahin gue! Salahin tuh pacar lo! Orang
pacar lo yang lebih milih gue daripada lo!”
“tamu gak akan masuk kalau gak dibukain pintu kan? Dasar
tolol!”
“eh, lo gak usah nyolot gitu dong! Kalo udah putus ya terima
aja! Susah amat kayak orang cerai! Kalo gak laku bilang dong! Ntar gue cariin!”
Suasana semakin memanas, aku hirup nafas dalam-dalam mencoba
menahan amarah yang semakin meluap. Vivi hanya diam, ia tak berani ikut campur
dengan urusanku.
“ kenapa bengong? Benarkan omongan gue! Sudahlah terima
kenyataan saja! Emang randy gak suka lo kok!”
Sudah! Cukup! Aku tidak bisa mengontrol emosiku, aku raih
jilbabnya lalu menjambaknya dengan kuat!
“Dasar perempuan gak tahu diri! Dasar PHO! Perempuan
murahan! Berani-beraninya ganggu hubunganku! Emang aku salah apa ke kamu!”
dea membalas menjambakku, suasana saat itu pecah dengan
perkelahian kami. Vivi meleraiku “sudah, sudah malu dilihat banyak orang Re!”
aku mengabaikanya aku masih menjambak jilbab dea dengan kuat.
“Sudah Re! hentikan!” tiba-tiba randy dating, menghempaskan
tanganku di kepala dea dengan kuat. Randy lalu memeluk dea. Kau mau tahu
bagaimana perasaanku saat itu? Seperti vas bunga dari kaca yang terjatuh dari
gedung bertingkat. Mungkin lebih dari itu. Sebulir biji air mataku menetes,
vivi memelukku yang sudah seperti patung di depan mereka. Pancaran mata dea
yang licik itu terlihat menyembunyikan tawa. Aku berlari, menarik tangan vivi
keluar, dan menangis histers di pelukan vivi.
****
Satu minggu berlalu, setelah
kejadia memilukan itu, aku mendengar jika Randy sudah jadian dengan dea. Aku
mencoba tegar, mencoba untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan dan menjadi
wanita kokoh yang berdiri di terpaan badai salju. Aku mencoba memposting semua
isi hatiku di blog, fb maupun twitter. Namun, Randy tak memperdulikanya. Cukup!
Sudah cukup! Aku tahu bahwa hubungan seseorang tak akan bertahan lama jika
berpangku pada penderitaan orang lain.
Lama-kelamaan rasa sayangku kepada randy menjadi musuh,
musuh yang membunuh hati ini perlahan. Aku ingin melepasnya tuhaan… melepas
rasa sakit ini, membebaskan hati yang terpenjara ini!
Kau benar kasih, hati ini tak
akan mampu berjalan sempoyongan melawan kerasnya hidup dan karpet merah penuh duri
yang telah digariskan itu. Jiwa ini meronta-ronta menyebut namamu disaat kalu
telah menyebut nama bidadari dambaanmu. Lantas? Inikah amarah cinta? Inikah
arti cinta sesungguhnya? Aku membencimu, sangat membencimu, membenci sikapmu
yang tak ubahnya seperti serigala. Kau telah merusak segalanya, merusak
kebahagiaan dan hati ini. Kau benar musuh dalam hidupku, musuh yang harus aku
singkirkan dengan cinta. Aku benar-benar
membencimu. Namun, ada satu hal yang tak bisa aku elakkan. Kau tahu itu? Rasa
yang kau tanam masih tumbuh subur saat musim gugur. Selamat jalan, selamat
jalan pujaan hatiii.. pergilaah.. taruhkan dunia ini dengan wanita pilihanmu
itu..
Kamis, 21 Januari 2016
Memang sungguh rindu ini tak pantas ku ucap kepadamu kasih, kasih yang tak sampai. Tapi semua itu telah terjadi pada diriku. Aku tahu bahkan sangat tahu bahwa aku sudah tidak ada di matamu. Mata yang tertutup bayangan wanita lain. Tak bisa apa-apa selain menikmati rindu ini sendiri. Ingin kudamaikan hatiku, berbicara padanya bahwa kau tak baik untukku kasih. Kau tak baik namun kau hebat, menipu rasa yang aku percaya bahwa rasa itu sungguhan. Yang terindah namun tak baik. Aku inginitulah sebutan untukmu. Untukmu yang tak lagi milikku. Aku ingin kau kembali dengan membawa secuil hatimu yang tak pantas kumiliki itu. Menikmati hangatnya mentari yang masih terbit itu bersama disinggahsana cinta yang telah kupersiapkan untukmu.
Rinduku
Hai sang pemilik hati
Bisakah kau mengerti?
Tubuh ini mencari
Mencari dekapan cinta itu
Hai sang pemilik hati
apakah kau mengerti?
Tangan ini mencari
mencari genggaman cinta itu
Hai sang pemilik hati
Bisakah kau mengerti?
Hati ini meronta-ronta
Menyebut namamu yang tak pantas ku ucap
Hai sang pemilik hati
Apakah kau mengerti?
Benih cinta tetap tumbuh
Dalam musim gugur yang membunuh
Aku rindu padamu, arif teguh riyanto. ☺
Rinduku
Hai sang pemilik hati
Bisakah kau mengerti?
Tubuh ini mencari
Mencari dekapan cinta itu
Hai sang pemilik hati
apakah kau mengerti?
Tangan ini mencari
mencari genggaman cinta itu
Hai sang pemilik hati
Bisakah kau mengerti?
Hati ini meronta-ronta
Menyebut namamu yang tak pantas ku ucap
Hai sang pemilik hati
Apakah kau mengerti?
Benih cinta tetap tumbuh
Dalam musim gugur yang membunuh
Aku rindu padamu, arif teguh riyanto. ☺
Rabu, 20 Januari 2016
secuil kata
Kau datang kasiiih
Membawa secercah cahaya
Cahaya cinta yang memancar
Memancar begitu hebatnyaa
Kau datang kasiiih
Menorehkan asa
Di singgahsana yang agung
Melukiskan kertas indah pada kehidupan
Kau pergi kasiiih
Di belakangmu masih ada cahaya
Cahaya yang tak padam
Diterpa angin dingin kehidupan
Kau pergi kasiiih
Melangkah pergii
Dengan segenggam darah kesakitan
Tengoklah kembali
Masih ada seonggok asa yang berdiri
Wanita dengan pancaran cinta dimatanya
Tak peduli waktu mengikisnya perlahan
Dia tetap berdiri dengan segenggam cinta
Untuk cinta yang telah menebar durihati
sang penikmat rindu
Aku memang bukan sosok yang sempurna. Diriku hanya sebuah batu kecil di sungai. Mengalir mengikuti jalanya kehidupan yang keras ini. Aku terlahir dari keluarga yang kecukupan. Anak pertama dari pasangan noryati dan ahmad makmun. Aku telah melewati banyak cerita suka dan duka. Yang tak pernah aku lupakan adalah tentang dirinya. Yap! Arif teguh riyanto. Begitu nama yang kini telah asing di mataku. semua berubah sejak keadaan tak lagi sama. Aku mengeluhkan akan hal itu. Tapi? Harus apa diriku? Beginilah takdir yang kujalani. Berpisah dengannya hanya karena dia mendambakan bidadari lain di belakang ku.sakit? Mungkin kta itu bisa mewakili apa yang kurasakan. Mungkin sampai sekarang aku tak mengerti apa yang telah kuperbuat dengan ya sehingga dia begitu tega menancapkan duri itu dihati. Aku membencinya. Membenci sikapnya yang tak ubahnya seperti serigala berbulu domba. Dia benar-benar musuh dalam hidupku. Dia telah merusak segalanya. Merusak cinta suci yang kujaga dengan sangat hati-hati. Aku benar-benar membencinya. namun, ada satu hal yang tak bisa ku elakkan. Apakah kau tahu itu? Rasa yang kau tanam masih tumbuh subur meski musim gugur telah menerpa. Aku merindukanmu, sangaaaat merindukanmu. Tapi aku hanya bisa diam, dengan menikmati luka yang kau berikan. Kemana dirimu? Dirimu yang menjadi sandaranku. Tenanglah dalam kata-kata yang suci ini, aku masih menyebut namamu.
Selasa, 19 Januari 2016
MENANTI DIRIMU
aku sendiri menantimu
menanti kehadiranmu disisiku
aku tak tahu kapan hal itu berlalu
yang bisa ku lakukan saat ini hanya MENUNGGU
kau, kau yang selama ini kunanti
meski kau tak tahu rasa ini
aku disini...
tak akan pergi, sebelum kau belum bisa kumiliki
bagaimana aku pergi?
jika kau selalu di hati
biarkan aku pergi
jika kau tak bisa ku miliki
jangan biarkan aku menikmati kesunyian
dan jangan kau mainkan perasaan
perasaan ini terlalu suci, untuk kau hianati..
RASAKU
masih ku ingat awal bertemu
kau katakan cinta padaku
mengukir kenangan indah dihidupku
namun itu terasa cepat berlalu
Rasa ini masih seperti dulu
yang tak mengenal kekuranganmu
tak mengenal sosok lain selain dirimu
ruang imajinasiku dipenuhi sosok wajah manismu
Ingin ku dekap kau untuk terakh kali
agar ku tak merasa kau hantui
jiwa ini rindu denganmu
denganmu yang dulu bersamaku
HARAPAN
Sendiri menunggu harapan
harapan yang masih semu
terjebak dalam omongan
omongan yang membuatku tergoda
mulut berkata
hati tak sama
saat ku katakan
AKU BENCI KAMU
tenggelam dalam luka
terbesit untuk putus asa
masih ada kekuatan
yang entah asalnya dari mana
mungkin rasa cinta itu
yang selalu ada dihatiku sekecil apapun itu
ketika cinta berkata
Ketika
cinta berkata
Namaku
stevi, rambutku sebahu. Aku adalah mahasiswa disalah satu universitas terkenal
di Jakarta. Aku mempunyai seorang kekasih bernama Rahman, kita sudah berpacaran
sejak lama, sejak aku duduk dikelas 2 SMP. Kami telah melewati berbagai masalah
bersama dan menyelesaikanya bersama. Ini kisah tentang cinta & perbedaan,
perbedaan yang tak pernah menggoyahkan cinta yang sejati, cinta dalam rasa yang
suci. Selalu abadi dalam jiwa ini.
Suatu
sore, sepualang kuliah Rahman menjemputku, mengajakku kencan. Hari ini sabtu,
jadi wajar saja kita kencan. Apalagi rumahku tak jauh dari rumahnya.
”Yang,
kita sekarang kemana?” Tanyaku didalam mobil.
“Terserah
kamu sayang, kita cari tempat yang nyaman ya, aku mau bicara sesuatu padamu”.
Jawab Rahman. Kulihat wajahnya menyimpan sesuatu yang tak ku ketahui.
“Bicara
apa? bicara saja disini!”
“Gak
ah Yang, nanti aja”
“Kamu
nyembunyiin sesuatu dari aku ya?” Tanyaku heran.
“Ah,
nanti aja ngomongnya!” Tegas Rahman.
Akupun
diam, aku sudah mengerti sifatnya itu, jika dia bilang tidak ya tidak.
Akhirnya
kita sampai disebuah kafe yang letaknya dekat kawasan puncak, tempat disini
sangat nyaman. Tak heran jika malam minggu pasti ramai. Aku memilih tempat
duduk di sudut ruangan, kemudian memesan minuman.
“Apa
yang ingin kau bicarakan Yang?” Aku mulai bicara. Rahman hanya terdiam dan
menunduk, nampak wajah gelisah menyelimutinya.
“Ada
apa sayang! Cepetan ngomong!”. Ku memaksa Rahman sambil memegang tanganya
dengan erat. Dengan menunduk dan memegang tanganku Rahman akhirnya bicara.
“Aku
mau dijodohkan Vi, dengan anak temenya papaku, maafkan aku.”
Rahman
menatapku tajam, matanya berkaca-kaca, sedangkan aku, aku terkejut
mendengarkanya, aliran darah dinadiku seolah berhenti, tubuhku kaku. Aku tak
percaya, apa yang barusan dikatakanya? Inikah balasan cinta tulusku padanya?
Aku tak mampu berkata, aku terdiam seribu bahasa. Aku tak bisa menyembunyikan
kesedihanku itu dari wajahku. Kita berbeda agama, Rahman seorang muslim
sedangkan aku seorang Kristiani. Keluargaku dan keluarga Rahman mengekang hubungan
kita, mereka tak merestuinya. Namun, aku
dan Rahman saling mencintai, kita tak bisa jauh satu sama lain. Dan kita
mempunyai tekad untuk selalu bersama sampai raga sudah tak bernyawa. Namun hal
ini, membuat aku untuk berfikir dua kali tentang tekad itu.
“Aku
masih mencintaimu Vi.” Rahman berkata dengan memegang erat tanganku.
“Tapi
kenapa kau lakukan ini Man?” kataku lirih.
“Aku
tak bisa mengelak Vi, ayahku yang
menyuruhku, mereka tak setuju dengan hubungan kita. Gara-gara kau berbeda agama
denganku. Mungkin, dengan kamu menjadi mu’alaf ayahku bisa menerimamu”.
Suasana
saat itu hening, aku hanya diam. Bagaimana ini? Haruskah aku menjadi
mu’alaf dan meninggalkan ajaran-ajaran
agama dari papaku sejak kecil? Atau aku meninggalkan cintaku? Aku tak bisa!
Kedua-duanya sama penting, ini menyangkut keyakinan dan perasaan batinku!
“Kasih
aku waktu untuk berfikir Man.” Ku tersenyum.
Setelah
makan kita berdua pulang, Rahman mengantarku didepan gang, Rahman tak berani
mengantarku sampai rumah, karena jika papaku tahu ia akan memarahiku. Kemudian
setalah ku sampai rumah, aku menuju ke kamar, merebahkan tubuhku di ranjang dan
memeluk boneka kesayanganku. Kejadian tadi masih terngiang-ngiang di kepalaku.
Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Sanggupkah meninggalkan papaku demi
cinta? siapa yang akan merawatnya? Ini tak mungkin. Tapi, bukankah dulu ibu
juga mengalami hal yg sama sepertiku? Namun dulu ibu memutuskan untuk meninggalkan keluarganya demi papaku.
Akankah aku seperti ibuku? Hari sudah malam, aku melupakan masalah itu sejenak
dan akupun tertidur.
Besoknya,
di ruang makan ku mencoba mengutarakan keinginanku kepada papa.
“Pa,”
kataku dengan wajah memelas.
“Ada
apa Vi?” Jawabnya sambil mengambil makanan.
“Pa,
aku mohon, ijinkan aku menikah dengan Rahman. Ijinkan aku menjadi mu’alaf”.
Kataku membuat papa tersedak.
“Apa
kau bilang?” Papa menatapku tajam.
“Aku
ingin menikah dengan Rahman Pa, papanya tak merestuinya jika aku tak menjadi
seorang mu’alaf, ayolah Pa, ijinkan aku. Bukankah dulu ibu juga sepertiku? Demi
cintanya pada papa ibu rela kan meninggalkan keluarganya?”
Papa
terdiam, kata-kataku membuat papa teringat akan ibu. Ibuku sudah meninggal 2
tahun lalu. Gara-gara penyakit diabetes yang dideritanya sejak lama. Papa tidak
menjawab permintaanku, ia lalu pergi tanpa kata yang keluar dari mulutnya.
Malamnya…
Rahman
menelponku, ia menanyaiku tentang tawaranya.
“Gimana
sayang?”
“Papaku
hanya diam, ia tak menjawab pertanyaanku.” Kataku lirih
“Aku
tak sanggup pisah denganmu.” Terdengar suara Rahrman menangis.
“Aku
juga, tapi jika Tuhan berkehendak, mau gimana
lagi?”
“Kita
lakukan saja yang terbaik, aku yakin Tuhan pasti mendengar keinginan kita”
“Udah
malam, tidur dulu sana”. Pintanya
“Iya
deh iya”
Tuut
tuuut tuut Rahman mematikan teleponya. Setelah itu ku termenung, memikirkan apa
rencana Tuhan. Tuhan pasti merencanakan hal yang baik untukku. Semua masalah
memenuhi kepalaku, membuatku lelah dan hampir ingin menyerah dengan keadaan.
“Viiii,
keluar sebentar! Papa mau bicara!” panggil papa dari luar. Kata-kata papa
membuat aku terbangun saat aku hamper memejamkan mata.
“Sini,
duduk sini” papa menggenggam erat tanganku.
“Ada
apa pa?” aku beranikan diri untuk membuka mulut kepada papa yang tatapanya tak
pernah lepas dariku. Seperti harimau yang tengah mengintai mangsanya.
“Kau
tidak boleh lakukan itu nak! Kau harus mengikuti ajaran papa sampai akhir
hayatmu! Apakah engkau ingin di cap murtad oleh yesus? Mengingkari ajaran salib
yang melingkari lehermu itu? Apa yang papa katakana pada pendeta di gereja
nanti? Bahwa anak papa satu-satunya telah mengingkari ajaran mereka?” Kata-kata
papa itu seperti petir yang menyambar jiwaku, jiwa yang sedang dipenuhi rasa
bimbang.
“Tapi
pa? apa papa tega membiarkan rasa cinta ini terlantar? Cinta ini sudah mendalam
pa! tolong pa, beri aku kesempatan” kataku memelas.
“Apa
kau tidak cinta papamu ini?” tatapan papa sangat tajam. Membuat diri ini
kehabisan kata-kata.
“Aku
sangat cinta kepada papa, tapiiii” belum selesai aku bicara papa menyela
omonganku.
“Tapi
apaa? Fikirkan kembali keputusanmu itu!” Papa meninggalkanku diruang tengah itu
sendiri. Aku tertunduk, menahan air mata yang hampir menetes. Jiwaku
benar-benar tergoyah, ya Tuhaan cobaan
apa yang engkau berikan? Kenapa engkau anugrahi cinta yang dalam ini jika kami
berbeda? Dengan tertunduk aku berjalan perlahan menuju kamar. Merebahkan jiwa
dari kegundahan dan merebahkan masalah yang ku alami sementara waktu.
Besoknyaa…
Rahman
mengirim sms padaku
“Jika
memang kita tidak ditakdirkan bersama, ijinkan rasa ini selalu tumbuh dihatimu,
mengalir dalam urat nadimu dan hidup dalam anganmu.”
Apa
maksudnya? Seketika aku menelfon Rahman, namun tak diangkat. Ya tuhaaan ada apa
iniii. Tanpa pikir panjang, aku langsung bergegas menuju rumah Rahman.
Sesampainya disana ada dua satpam yang menjaga pintu gerbang rumah Rahman.
Tanpa menghiraukan dua satpam itu aku mengggedor-gedor gerbang rumah Rahman.
“Rahmaaan
Rahmaaan keluar, ada apa denganmu? Apakah kau lupa dengan janjimu?” aku terus
berteriak dengan air yang mengalir dimataku.
Dua
satpam itu menggeretku dari depan gerbang. Dan mencaci makiku dengan kata yang
tak pantas di ucap. Satu kata yang masih terngiang dipikiranku yaitu “Tuan
Rahman sedang melangsungkan acara pertunangan”
Dengan
tubuh yang bergetar & cinta yang padam aku pergi. Sepanjang jalan aku
termenung. Benarkah ini akan terjadi? Cinta yang bersinar padam oleh perbedaan?
Perbedaan yang lahir dari hati nurani. Aku yakin, Rahman tak akan tega
melakukan hal seperti ini.
Malamnyaa….
Aku
berfikir jika papa menyetujuiku untuk menjadi mu’allaf pasti ayah Rahman
menyetujui hubunganku. Ku coba membujuk papaku lagi, agar ia merestuiku menikah
dengan rahman dan mengijinkanku menjadi mu’alaf. Aku sengaja mengurung diri
dikamar, mengunci pintu rapat-rapat sampai-sampai tak ada lalat yg bisa masuk.
tok
tok took “Buka pintunya Vi” kata papa dari luar. Awalnya ku enggan membuka
pintu itu, namun aku tak tega mendengar suara rintih papa yg memaksaku untuk
membuka pintu.
“Ada
apa pa?” tanyaku dengan memalingkan wajah.
“Sini
duduk papa mau bicara denganmu” senyum papa. Kemudian ku duduk disebelah papa.
“Papa
tak tega melihatmu menderita seperti almarhum ibumu dulu, papa kasihan
denganmu, sekarang semua terserah kamu. Jika kamu bahagia dengan keputusanmu
lakukanlah, papa tak mau melihatmu menderita disisa hidup papa” papa menatapku
dengan penuh perasaan. Kulihat papa meneteskan air mata, tak tega rasanya
melihat papa. Kemudian ku dekap papadan berkata “Terimakasih Pa, aku akan
selalu barsama papa, aku akan menjaga papa hingga papa kepangkuan sang Pencipta
disana”.
Setelah
mendapat restu dari papa, ku bergegas menemui Rahman ke kantornya.
“Rahman,
aku membawa berita baik untuk kita.” kataku dengan gembira setelah ku bertemu
Rahman.
“Apa
devi? Ayahmu sudah merestuinya ya? Tapi aku sudah bertunangan dengan wanita
yang dijodohkan ayah padaku” rahman
megang tanganku
“Lupakan
tunanganmu itu, apa kau menginginkanya? Ikuti kata hatimu, ikuti rasa yang
masih tumbuh dalam hatimu itu, aku mohon maaan”
Rahman
hanya tersenyum lalu memelukku.
“Antarkan
aku ke masjid Man” senyumku.
“Kamu
serius ingin jadi mu’alaf?”
“Keputusanku
sudah bulat, aku sudah memikirkan semua dengan matang Man, tolong antarkan aku”.
Kemudian Rahman terlihat mengambil sesuatu dari laci meja dan memberikanya
padaku.
“Ini
sehelai kain untukmu, aku ingin setelah kau menjadi mu’alaf kau balutkan ini
diwajahmu”. ku mengangguk, lalu kami
bergegas menuju ke masjid. Ku mengutarakan 2 kalimat syahadat, dan kini aku
syah menjadi seorang muslim. Rahman mengajariku sholat dan kewajiban lainya yang
harus ku lakukan. Aku bahagia dengan semuanya, batinku terasa tenang setelah ku
menjadi mu’alaf.
Dan
akhirnya saat itu tiba, Rahman melamarku. Ia tak jadi dijodohkan, keluarga kami
sudah saling merestui. Kehidupanku berubah sejak ku memutuskan masuk islam dan
berhijab. Semua kebahagiaan yang semu kini menjadi kisah yang berarti, cinta
yang membuatku sadar dan cinta yang membuat cerita indah itu datang.
Memang
perbedaan selalu datang, tapi cinta yang suci tak akan pernah padam, cinta yang
tumbuh bersama jiwa. Mengayun lembut alunan cinta yang menggetarkan jiwa.
Diperbudak oleh rasa? Entah itu menjadi misteri yang masih tersembunyi.
Langganan:
Postingan (Atom)