Sabtu, 23 Januari 2016

Aku berharap suatu saat nanti kau akan mengerti, bagaimana hebatnya rasa ini, bagaimana hebatnya wanita hina ini. yang masih menyebut namamu saat kau menyebut nama wanita lain. memang semua ini bukan salahmu, semua ini salahku yang terlalu percaya denganmu aku tahu kau bosan, bosan dengan ocehan yang keluar dari muluku ini. aku tahu rasa ini sudah tak berguna. tapi hati ini terus menyebut namamu, bagaimana bisa aku melawanya? hatiku telah dipenuhi dirimu. mencintaimu dalam diam. hanya itu yang bisa aku lakukan. maaf jika aku terlalu berlebihan dalam rasa ini. tapi inilah diriku, dengan seribu perasaan ini. ini adalah perasaan suci yang dikaruniakan untukku. maaf, aku terlalu mencintaimu.

Sayangku, musuhku

     tenang saja, cerita ini hanya fiksi belaka, tidak nyata, yaaa mungkin ada sebagian yang nyata :v maaf jika ada yang tersinggung dalam cerita ini. cerita ini hanya aku karang kog, beneran.


Sayangku Musuhku

Namaku adalah Regina, biasa dipanggil “Rere” atau “Siput” yaaa mungkin karena aku sering terlambat atau sering tak selesai-selesai jika mengerjakan sesuatu. Makanya, julukan itu diberikan padaku. Aku memiliki seorang kekasih bernama Randy. Kami berpacaran sejak kelas dua SMA. Dan sekarang aku menginjak semester 2 di UNIVERSITAS Negeri dikotaku. Waktu SMA hubunganku baik-baik saja. Seperti kupu-kupu yang sedang bertemu pasanganya, menari kesana-kemari mengarungi indahnya dunia berdua. Namun, lambat laun setelah kami terpisah oleh jarak semuanya berbeda. Banyak batu-batu besar yang bertebar dalam jalan kami.
Sudah 30 menit aku menunggu, tak seperti biasanya aku hanya menuggu 10 menit di halte ini. Tiba-tiba Randy SMS.
“Maaf, aku lagi malas keluar. Aku tidak bisa menjemputmu.”
“Iya gakpapa” balasku singkat.
Mulai saat itulah timbul kecurigaan dibenakku. Namun hati ini terus menangkal kecurigaan itu. Kepercayaan padanya yang masih kuat melekat dihatiku.saat kejadian itu aku dan dia lost contact. Sudah dua hari kami tidak bertukar kabar. Aku resah, aku coba untuk sms dia dulu.
“sayang bisakah kita bertemu?”
Aku kira dia akan membalasnya dengan cepat, namun dugaanku salah. Malamnya, baru ia balas. Dengan kata yang paling menyakitkan yang aku dengar.
“aku mengundurkan diri” kata penuh makna bukan? Kau mengerti? Seketika air mata tumpah di pipiku. Aku terus mengelaknya, memoohon pada dia agar kembali padaku. Aku tak mengerti apa yang telah aku lakukan. Aku sungguh tak mengerti. Aku terus meronta-ronta, menelfonya, sms dengan kata memohon-mohon, namun semua itu diabaikanya. Apakah dia benar-benar meniggalkanku sendirian? Dengan luka yang ia berikan?
****
Dua hari setelah aku putus denganya, aku masih berduka. Berlarut-larut dalam kesedihan yang mendalam. Tak henti-hentinya air mata ini terus keluar. Saat malam tiba, temanku vivi datang, dia bilang jika hari ini akan tidur denganku, di kos-kosan yang tak jauh dari rumahnya. Dan ketika aku membuka laptop untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen, tiba-tiba vivi membuka situs fb dan mendapati bahwa foto profil Randy sudah diganti dengan wanita lain, sontak tubuhku bergetar, aku benar-benar shock. Aku tergeletak lemas dilantai, vivi yang takut dengan keadaanku kebingungan. Dia berlari mengambil air minum dan mengipasiku. Lalu ia mencoba menghiburku dengan kata-kata yang baik tentang randy tentunya. Aku tak menghiraukan vivi, fikiranku saat itu tertuju pada wanita yang di foto profilnya. Siapa wanita itu? Kekasihnya? Jadi selama ini? Randy berubah karena wanita itu? Aku harus mencari tahu siapa dia! Aku menyuruh vivi untuk meninggalkan aku sendiri, namun dia tak mau, dia takut dengan keadaanku. Dia menemaniku hingga aku tertidur.
Paginya ada jam kuliah. Aku berangkat dengan hati yang tercabik-cabik. Kesehatanku down, typusku kambuh. Namun aku paksakan untuk berangkat, alhasil vivi membawaku ke pusat kesehatan di kampus ini saat aku ditemukan pingsan di depan pintu. Dengan cemas, vivi lalu mengantarku pulang. Aku meminta vivi untuk mencari siapa wanitanya randy. Namun vivi berkata “sudahlah re, lupakan saja wanita itu, yang salah bukan wanita itu, tapi Randy! Jika Randi orang baik pasti tidak akn lakukan ini padamu kan?”
Aku sama sekali tak meresapi kalimat vivi. Randy tidak salah! Wanita itu yang salah! Kenapa dia datang! Apa dia gak punya harga diri? Sudah tahu randy sudah punya pacar!
****
Malamnya, aku menemukan siapa wanita itu! Namanya Dea!  Aku benar-benar tak mempedulikan kesehatanku saat ini, fikiranku hanya tertuju pada dia. Tanpa piker panjang aku mencaci makinya di messenger fbnya. Dia membalas, membalas dengan kata-kata yang baik. Sok polos! Fikirku. Aku terus ebrpikiran negative kepada wanita itu. Satu kata yang masih terngiang-ngiang di kepalaku adalah “oke, aku akan menjauh dari Randi!”  Ha? Menjauh? Paling juga omdo! Tiba-tiba randy menghubungiku dan mengajakku untuk bertemu. Ada apa ini? Seperti mimpi saja.
****
Aku menunggunya di taman dekat kampus. Tak berapa lama, Randy menghampiriku, lalu duduk disampingku, tanpa basa-basi Randy berkata
“Re, aku mohon padamu jangan ganggu Dea, aku tidak minta apa-apa padamu, hanya itu saja, tolong jangan ganggu dia”  
Aku menunduk terdiam, apa? Jadi Dea telah mengadu pada Randy? Dasar wanita murahan! Aku memandangi Randy dengan pancaran cinta dimataku.
“Tapiii, kenapa kau tega melakukan iniii. Aku masih mencintaimu Ren”
“Benarkah? Jika kau benar mencintaiku, biarkan orang yang kau cintai ini bahagia dengan orang lain”
“kenapa! Kenapa kau tega perlakukan aku seperti ini ren, kenapa! Apa salahku padamu?” sebulir air mataku menetes di pipi.
“ kau mau tahu? Karena aku sudah tidak mencintaimu!” randy lalu pergi, pergi dengan kata yang sangat menyayat hati.
Aku pulang, sepanjang jalan aku meneteskan air mata. Pulang dengan hati yang sudah tak berbentuk. Aku kirimkan messenger pada wanita itu lagi. Seperti biasa aku mencaci makinya. Aku tersentak kaget saat dia membalas “kenapa? Kenapa kalau aku sayang randy? Kamu gak terima! Iya! Jangan iri deh sama gue! Gara-gara randy lebih milih gue daripada lo! Jangan kayak wanita gak laku deh!”
Feelingku benar kan? Dia serigala berbulu domba! Saat aku mncaci makinya lagi, tiba-tiba randy sms “kasihan alisa Re, dia tidak salah. Kenapa kau selalu memarahinya? Dia hanya diam kan padamu? Kurang baik apa dia untukku? “
Apa maksudnya sms Randy ini? Diam? Alisa hanya diam? Sekarang aku mengerti bahwa wanita murahan itu telah menjadi serigala didepanku dan menjadi domba di depan randy! Arrggh! Wanita itu!
Aku sudah tidak tahan dengan sikap dea. Aku mengajaknya bertemu di sebuah kafe, awalnya ia tidak mau, mugkin karena takut namun ketika aku menyebutnya cepu akhirnya dia setuju. 10 menit menggu alisa tidak kunjung dating, vivi yang cemas denganku mencoba meluncurkan senyum yang terpaksa itu padaku. 20 menit kemudian, dea dating, dengan dandanan menornya. Uuuh kampungan banget! Aku menatapnya tajam, diapun begitu,
“hey perempuan murahan! Maksudmu apa! Ganggu-ganggu pacar orang! Gak laku ya!” tanpa basa-basi aku keluarkan kata terpedas dari mulutku.
“heh! Kenapa lo nyalahin gue! Salahin tuh pacar lo! Orang pacar lo yang lebih milih gue daripada lo!”
“tamu gak akan masuk kalau gak dibukain pintu kan? Dasar tolol!”
“eh, lo gak usah nyolot gitu dong! Kalo udah putus ya terima aja! Susah amat kayak orang cerai! Kalo gak laku bilang dong! Ntar gue cariin!”
Suasana semakin memanas, aku hirup nafas dalam-dalam mencoba menahan amarah yang semakin meluap. Vivi hanya diam, ia tak berani ikut campur dengan urusanku.
“ kenapa bengong? Benarkan omongan gue! Sudahlah terima kenyataan saja! Emang randy gak suka lo kok!”
Sudah! Cukup! Aku tidak bisa mengontrol emosiku, aku raih jilbabnya lalu menjambaknya dengan kuat!
“Dasar perempuan gak tahu diri! Dasar PHO! Perempuan murahan! Berani-beraninya ganggu hubunganku! Emang aku salah apa ke kamu!”
dea membalas menjambakku, suasana saat itu pecah dengan perkelahian kami. Vivi meleraiku “sudah, sudah malu dilihat banyak orang Re!” aku mengabaikanya aku masih menjambak jilbab dea dengan kuat.
“Sudah Re! hentikan!” tiba-tiba randy dating, menghempaskan tanganku di kepala dea dengan kuat. Randy lalu memeluk dea. Kau mau tahu bagaimana perasaanku saat itu? Seperti vas bunga dari kaca yang terjatuh dari gedung bertingkat. Mungkin lebih dari itu. Sebulir biji air mataku menetes, vivi memelukku yang sudah seperti patung di depan mereka. Pancaran mata dea yang licik itu terlihat menyembunyikan tawa. Aku berlari, menarik tangan vivi keluar, dan menangis histers di pelukan vivi.
****
Satu minggu berlalu, setelah kejadia memilukan itu, aku mendengar jika Randy sudah jadian dengan dea. Aku mencoba tegar, mencoba untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan dan menjadi wanita kokoh yang berdiri di terpaan badai salju. Aku mencoba memposting semua isi hatiku di blog, fb maupun twitter. Namun, Randy tak memperdulikanya. Cukup! Sudah cukup! Aku tahu bahwa hubungan seseorang tak akan bertahan lama jika berpangku pada penderitaan orang lain.
Lama-kelamaan rasa sayangku kepada randy menjadi musuh, musuh yang membunuh hati ini perlahan. Aku ingin melepasnya tuhaan… melepas rasa sakit ini, membebaskan hati yang terpenjara ini!
Kau benar kasih, hati ini tak akan mampu berjalan sempoyongan melawan kerasnya hidup dan karpet merah penuh duri yang telah digariskan itu. Jiwa ini meronta-ronta menyebut namamu disaat kalu telah menyebut nama bidadari dambaanmu. Lantas? Inikah amarah cinta? Inikah arti cinta sesungguhnya? Aku membencimu, sangat membencimu, membenci sikapmu yang tak ubahnya seperti serigala. Kau telah merusak segalanya, merusak kebahagiaan dan hati ini. Kau benar musuh dalam hidupku, musuh yang harus aku singkirkan dengan cinta.  Aku benar-benar membencimu. Namun, ada satu hal yang tak bisa aku elakkan. Kau tahu itu? Rasa yang kau tanam masih tumbuh subur saat musim gugur. Selamat jalan, selamat jalan pujaan hatiii.. pergilaah.. taruhkan dunia ini dengan wanita pilihanmu itu..

Kamis, 21 Januari 2016

Memang sungguh rindu ini tak pantas ku ucap kepadamu kasih, kasih yang tak sampai. Tapi semua itu telah terjadi pada diriku. Aku tahu bahkan sangat tahu bahwa aku sudah tidak ada di matamu. Mata yang tertutup bayangan wanita lain. Tak bisa apa-apa selain menikmati rindu ini sendiri. Ingin kudamaikan hatiku, berbicara padanya bahwa kau tak baik untukku kasih. Kau tak baik namun kau hebat, menipu rasa yang aku percaya bahwa rasa itu sungguhan. Yang terindah namun tak baik. Aku inginitulah sebutan untukmu. Untukmu yang tak lagi milikku. Aku ingin kau kembali dengan membawa secuil hatimu yang tak pantas kumiliki itu. Menikmati hangatnya mentari yang masih terbit itu bersama disinggahsana cinta yang telah kupersiapkan untukmu.

 Rinduku

Hai sang pemilik hati
Bisakah kau mengerti?
Tubuh ini mencari
Mencari dekapan cinta itu

Hai sang pemilik hati
apakah kau mengerti?
Tangan ini mencari
mencari genggaman cinta itu

Hai sang pemilik hati
Bisakah kau mengerti?
Hati ini meronta-ronta
Menyebut namamu yang tak pantas ku ucap

Hai sang pemilik hati
Apakah kau mengerti?
Benih cinta tetap tumbuh
Dalam musim gugur yang membunuh


Aku rindu padamu, arif teguh riyanto. ☺

Rabu, 20 Januari 2016

secuil kata

Kau datang kasiiih
Membawa secercah cahaya
Cahaya cinta yang memancar
Memancar begitu hebatnyaa

Kau datang kasiiih
Menorehkan asa
Di singgahsana yang agung
Melukiskan kertas indah pada kehidupan

Kau pergi kasiiih
Di belakangmu masih ada cahaya
Cahaya yang tak padam
Diterpa angin dingin kehidupan 

Kau pergi kasiiih 
Melangkah pergii
Dengan segenggam darah kesakitan
Tengoklah kembali 
Masih ada seonggok asa yang berdiri

Wanita dengan pancaran cinta  dimatanya 
Tak peduli waktu mengikisnya perlahan
Dia tetap berdiri dengan segenggam cinta 
Untuk cinta yang telah menebar durihati 

sang penikmat rindu

Aku memang bukan sosok yang sempurna. Diriku hanya sebuah batu kecil di sungai. Mengalir mengikuti jalanya kehidupan yang keras ini. Aku terlahir dari keluarga yang kecukupan. Anak pertama dari pasangan noryati dan ahmad makmun. Aku telah melewati banyak cerita suka dan duka. Yang tak pernah aku lupakan adalah tentang dirinya. Yap! Arif teguh riyanto. Begitu nama yang kini telah asing di mataku. semua berubah sejak keadaan tak lagi sama. Aku mengeluhkan akan hal itu. Tapi? Harus apa diriku? Beginilah takdir yang kujalani. Berpisah dengannya hanya karena dia mendambakan bidadari lain di belakang ku.sakit? Mungkin kta itu bisa mewakili apa yang kurasakan. Mungkin sampai sekarang aku tak mengerti apa yang telah kuperbuat dengan ya sehingga dia begitu tega menancapkan duri itu dihati. Aku membencinya. Membenci sikapnya yang tak ubahnya seperti serigala berbulu domba. Dia benar-benar musuh dalam hidupku. Dia telah merusak segalanya. Merusak cinta suci yang kujaga dengan sangat hati-hati. Aku benar-benar membencinya. namun, ada satu hal yang tak bisa ku elakkan. Apakah kau tahu itu? Rasa yang kau tanam masih tumbuh subur meski musim gugur telah menerpa. Aku merindukanmu, sangaaaat merindukanmu. Tapi aku hanya bisa diam, dengan menikmati luka yang kau berikan. Kemana dirimu? Dirimu yang menjadi sandaranku. Tenanglah dalam kata-kata yang suci ini, aku masih menyebut namamu.

Selasa, 19 Januari 2016

MENANTI DIRIMU

aku sendiri menantimu
menanti kehadiranmu disisiku
aku tak tahu kapan hal itu berlalu
yang bisa ku lakukan saat ini hanya MENUNGGU
                             kau, kau yang selama ini kunanti
                             meski kau tak tahu rasa ini
                             aku disini...
                             tak akan pergi, sebelum kau belum bisa kumiliki
bagaimana aku pergi?
jika kau selalu di hati
biarkan aku pergi
jika kau tak bisa ku miliki
                        jangan biarkan aku menikmati kesunyian
                        dan jangan kau mainkan perasaan
                        perasaan ini terlalu suci, untuk kau hianati..



RASAKU
masih ku ingat awal bertemu
kau katakan cinta padaku
mengukir kenangan indah dihidupku
namun itu terasa cepat berlalu

Rasa ini masih seperti dulu
yang tak mengenal kekuranganmu
tak mengenal sosok lain selain dirimu
ruang imajinasiku dipenuhi sosok wajah manismu

Ingin ku dekap kau untuk terakh kali
agar ku tak merasa kau hantui
jiwa ini rindu denganmu
denganmu yang dulu bersamaku
HARAPAN
  Sendiri menunggu harapan
harapan yang masih semu
terjebak dalam omongan
omongan yang membuatku tergoda

mulut berkata
hati tak sama
saat ku katakan
AKU BENCI KAMU

tenggelam dalam luka
terbesit untuk putus asa
masih ada kekuatan 
yang entah asalnya dari mana
mungkin rasa cinta itu
yang selalu ada dihatiku sekecil apapun itu

ketika cinta berkata



Ketika cinta berkata
Namaku stevi, rambutku sebahu. Aku adalah mahasiswa disalah satu universitas terkenal di Jakarta. Aku mempunyai seorang kekasih bernama Rahman, kita sudah berpacaran sejak lama, sejak aku duduk dikelas 2 SMP. Kami telah melewati berbagai masalah bersama dan menyelesaikanya bersama. Ini kisah tentang cinta & perbedaan, perbedaan yang tak pernah menggoyahkan cinta yang sejati, cinta dalam rasa yang suci. Selalu abadi dalam jiwa ini.
Suatu sore, sepualang kuliah Rahman menjemputku, mengajakku kencan. Hari ini sabtu, jadi wajar saja kita kencan. Apalagi rumahku tak jauh dari rumahnya.
”Yang, kita sekarang kemana?” Tanyaku didalam mobil.
“Terserah kamu sayang, kita cari tempat yang nyaman ya, aku mau bicara sesuatu padamu”. Jawab Rahman. Kulihat wajahnya menyimpan sesuatu yang tak ku ketahui.
“Bicara apa? bicara saja disini!”
“Gak ah Yang, nanti aja”
“Kamu nyembunyiin sesuatu dari aku ya?” Tanyaku heran.
“Ah, nanti aja ngomongnya!” Tegas Rahman.
Akupun diam, aku sudah mengerti sifatnya itu, jika dia bilang tidak ya tidak.
Akhirnya kita sampai disebuah kafe yang letaknya dekat kawasan puncak, tempat disini sangat nyaman. Tak heran jika malam minggu pasti ramai. Aku memilih tempat duduk di sudut ruangan, kemudian memesan minuman.
“Apa yang ingin kau bicarakan Yang?” Aku mulai bicara. Rahman hanya terdiam dan menunduk, nampak wajah gelisah menyelimutinya.
“Ada apa sayang! Cepetan ngomong!”. Ku memaksa Rahman sambil memegang tanganya dengan erat. Dengan menunduk dan memegang tanganku Rahman akhirnya bicara.
“Aku mau dijodohkan Vi, dengan anak temenya papaku, maafkan aku.”
Rahman menatapku tajam, matanya berkaca-kaca, sedangkan aku, aku terkejut mendengarkanya, aliran darah dinadiku seolah berhenti, tubuhku kaku. Aku tak percaya, apa yang barusan dikatakanya? Inikah balasan cinta tulusku padanya? Aku tak mampu berkata, aku terdiam seribu bahasa. Aku tak bisa menyembunyikan kesedihanku itu dari wajahku. Kita berbeda agama, Rahman seorang muslim sedangkan aku seorang Kristiani. Keluargaku dan keluarga Rahman mengekang hubungan kita, mereka  tak merestuinya. Namun, aku dan Rahman saling mencintai, kita tak bisa jauh satu sama lain. Dan kita mempunyai tekad untuk selalu bersama sampai raga sudah tak bernyawa. Namun hal ini, membuat aku untuk berfikir dua kali tentang tekad itu.
“Aku masih mencintaimu Vi.” Rahman berkata dengan memegang erat tanganku.
“Tapi kenapa kau lakukan ini Man?” kataku lirih.
“Aku tak bisa mengelak Vi, ayahku  yang menyuruhku, mereka tak setuju dengan hubungan kita. Gara-gara kau berbeda agama denganku. Mungkin, dengan kamu menjadi mu’alaf ayahku bisa menerimamu”.
Suasana saat itu hening, aku hanya diam. Bagaimana ini? Haruskah aku menjadi mu’alaf  dan meninggalkan ajaran-ajaran agama dari papaku sejak kecil? Atau aku meninggalkan cintaku? Aku tak bisa! Kedua-duanya sama penting, ini menyangkut keyakinan dan perasaan batinku!
“Kasih aku waktu untuk berfikir Man.” Ku tersenyum.
Setelah makan kita berdua pulang, Rahman mengantarku didepan gang, Rahman tak berani mengantarku sampai rumah, karena jika papaku tahu ia akan memarahiku. Kemudian setalah ku sampai rumah, aku menuju ke kamar, merebahkan tubuhku di ranjang dan memeluk boneka kesayanganku. Kejadian tadi masih terngiang-ngiang di kepalaku. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Sanggupkah meninggalkan papaku demi cinta? siapa yang akan merawatnya? Ini tak mungkin. Tapi, bukankah dulu ibu juga mengalami hal yg sama sepertiku? Namun dulu ibu memutuskan  untuk meninggalkan keluarganya demi papaku. Akankah aku seperti ibuku? Hari sudah malam, aku melupakan masalah itu sejenak dan akupun  tertidur.
Besoknya, di ruang makan ku mencoba mengutarakan keinginanku kepada papa.
“Pa,” kataku dengan wajah memelas.
“Ada apa Vi?” Jawabnya sambil mengambil makanan.
“Pa, aku mohon, ijinkan aku menikah dengan Rahman. Ijinkan aku menjadi mu’alaf”. Kataku membuat papa tersedak.
“Apa kau bilang?” Papa menatapku tajam.
“Aku ingin menikah dengan Rahman Pa, papanya tak merestuinya jika aku tak menjadi seorang mu’alaf, ayolah Pa, ijinkan aku. Bukankah dulu ibu juga sepertiku? Demi cintanya pada papa ibu rela kan meninggalkan keluarganya?”
Papa terdiam, kata-kataku membuat papa teringat akan ibu. Ibuku sudah meninggal 2 tahun lalu. Gara-gara penyakit diabetes yang dideritanya sejak lama. Papa tidak menjawab permintaanku, ia lalu pergi tanpa kata yang keluar dari mulutnya.
Malamnya…
Rahman menelponku, ia menanyaiku tentang tawaranya.
“Gimana sayang?”
“Papaku hanya diam, ia tak menjawab pertanyaanku.” Kataku lirih
“Aku tak sanggup pisah denganmu.” Terdengar suara Rahrman menangis.
“Aku juga, tapi jika Tuhan berkehendak, mau gimana  lagi?”
“Kita lakukan saja yang terbaik, aku yakin Tuhan pasti mendengar keinginan kita”
“Udah malam, tidur dulu sana”. Pintanya
“Iya deh iya”
Tuut tuuut tuut Rahman mematikan teleponya. Setelah itu ku termenung, memikirkan apa rencana Tuhan. Tuhan pasti merencanakan hal yang baik untukku. Semua masalah memenuhi kepalaku, membuatku lelah dan hampir ingin menyerah dengan keadaan.
“Viiii, keluar sebentar! Papa mau bicara!” panggil papa dari luar. Kata-kata papa membuat aku terbangun saat aku hamper memejamkan mata.
“Sini, duduk sini” papa menggenggam erat tanganku.
“Ada apa pa?” aku beranikan diri untuk membuka mulut kepada papa yang tatapanya tak pernah lepas dariku. Seperti harimau yang tengah mengintai mangsanya.
“Kau tidak boleh lakukan itu nak! Kau harus mengikuti ajaran papa sampai akhir hayatmu! Apakah engkau ingin di cap murtad oleh yesus? Mengingkari ajaran salib yang melingkari lehermu itu? Apa yang papa katakana pada pendeta di gereja nanti? Bahwa anak papa satu-satunya telah mengingkari ajaran mereka?” Kata-kata papa itu seperti petir yang menyambar jiwaku, jiwa yang sedang dipenuhi rasa bimbang.
“Tapi pa? apa papa tega membiarkan rasa cinta ini terlantar? Cinta ini sudah mendalam pa! tolong pa, beri aku kesempatan” kataku memelas.
“Apa kau tidak cinta papamu ini?” tatapan papa sangat tajam. Membuat diri ini kehabisan kata-kata.
“Aku sangat cinta kepada papa, tapiiii” belum selesai aku bicara papa menyela omonganku.
“Tapi apaa? Fikirkan kembali keputusanmu itu!” Papa meninggalkanku diruang tengah itu sendiri. Aku tertunduk, menahan air mata yang hampir menetes. Jiwaku benar-benar tergoyah,  ya Tuhaan cobaan apa yang engkau berikan? Kenapa engkau anugrahi cinta yang dalam ini jika kami berbeda? Dengan tertunduk aku berjalan perlahan menuju kamar. Merebahkan jiwa dari kegundahan dan merebahkan masalah yang ku alami sementara waktu.
Besoknyaa…
Rahman mengirim sms padaku
“Jika memang kita tidak ditakdirkan bersama, ijinkan rasa ini selalu tumbuh dihatimu, mengalir dalam urat nadimu dan hidup dalam anganmu.”
Apa maksudnya? Seketika aku menelfon Rahman, namun tak diangkat. Ya tuhaaan ada apa iniii. Tanpa pikir panjang, aku langsung bergegas menuju rumah Rahman. Sesampainya disana ada dua satpam yang menjaga pintu gerbang rumah Rahman. Tanpa menghiraukan dua satpam itu aku mengggedor-gedor gerbang rumah Rahman.
“Rahmaaan Rahmaaan keluar, ada apa denganmu? Apakah kau lupa dengan janjimu?” aku terus berteriak dengan air yang mengalir dimataku.
Dua satpam itu menggeretku dari depan gerbang. Dan mencaci makiku dengan kata yang tak pantas di ucap. Satu kata yang masih terngiang dipikiranku yaitu “Tuan Rahman sedang melangsungkan acara pertunangan”
Dengan tubuh yang bergetar & cinta yang padam aku pergi. Sepanjang jalan aku termenung. Benarkah ini akan terjadi? Cinta yang bersinar padam oleh perbedaan? Perbedaan yang lahir dari hati nurani. Aku yakin, Rahman tak akan tega melakukan hal seperti ini.
Malamnyaa….
Aku berfikir jika papa menyetujuiku untuk menjadi mu’allaf pasti ayah Rahman menyetujui hubunganku. Ku coba membujuk papaku lagi, agar ia merestuiku menikah dengan rahman dan mengijinkanku menjadi mu’alaf. Aku sengaja mengurung diri dikamar, mengunci pintu rapat-rapat sampai-sampai tak ada lalat yg bisa masuk.
tok tok took “Buka pintunya Vi” kata papa dari luar. Awalnya ku enggan membuka pintu itu, namun aku tak tega mendengar suara rintih papa yg memaksaku untuk membuka pintu.
“Ada apa pa?” tanyaku dengan memalingkan wajah.
“Sini duduk papa mau bicara denganmu” senyum papa. Kemudian ku duduk disebelah papa.
“Papa tak tega melihatmu menderita seperti almarhum ibumu dulu, papa kasihan denganmu, sekarang semua terserah kamu. Jika kamu bahagia dengan keputusanmu lakukanlah, papa tak mau melihatmu menderita disisa hidup papa” papa menatapku dengan penuh perasaan. Kulihat papa meneteskan air mata, tak tega rasanya melihat papa. Kemudian ku dekap papadan berkata “Terimakasih Pa, aku akan selalu barsama papa, aku akan menjaga papa hingga papa kepangkuan sang Pencipta disana”.
Setelah mendapat restu dari papa, ku bergegas menemui Rahman ke kantornya.
“Rahman, aku membawa berita baik untuk kita.” kataku dengan gembira setelah ku bertemu Rahman.
“Apa devi? Ayahmu sudah merestuinya ya? Tapi aku sudah bertunangan dengan wanita yang dijodohkan ayah padaku”  rahman megang tanganku
“Lupakan tunanganmu itu, apa kau menginginkanya? Ikuti kata hatimu, ikuti rasa yang masih tumbuh dalam hatimu itu, aku mohon maaan”
Rahman hanya tersenyum lalu memelukku.
“Antarkan aku ke masjid Man” senyumku.
“Kamu serius ingin jadi mu’alaf?”
“Keputusanku sudah bulat, aku sudah memikirkan semua dengan matang Man, tolong antarkan aku”. Kemudian Rahman terlihat mengambil sesuatu dari laci meja dan memberikanya padaku.
“Ini sehelai kain untukmu, aku ingin setelah kau menjadi mu’alaf kau balutkan ini diwajahmu”.  ku mengangguk, lalu kami bergegas menuju ke masjid. Ku mengutarakan 2 kalimat syahadat, dan kini aku syah menjadi seorang muslim. Rahman mengajariku sholat dan kewajiban lainya yang harus ku lakukan. Aku bahagia dengan semuanya, batinku terasa tenang setelah ku menjadi mu’alaf.
Dan akhirnya saat itu tiba, Rahman melamarku. Ia tak jadi dijodohkan, keluarga kami sudah saling merestui. Kehidupanku berubah sejak ku memutuskan masuk islam dan berhijab. Semua kebahagiaan yang semu kini menjadi kisah yang berarti, cinta yang membuatku sadar dan cinta yang membuat cerita indah itu datang.
Memang perbedaan selalu datang, tapi cinta yang suci tak akan pernah padam, cinta yang tumbuh bersama jiwa. Mengayun lembut alunan cinta yang menggetarkan jiwa. Diperbudak oleh rasa? Entah itu menjadi misteri yang masih tersembunyi.