Ketika
cinta berkata
Namaku
stevi, rambutku sebahu. Aku adalah mahasiswa disalah satu universitas terkenal
di Jakarta. Aku mempunyai seorang kekasih bernama Rahman, kita sudah berpacaran
sejak lama, sejak aku duduk dikelas 2 SMP. Kami telah melewati berbagai masalah
bersama dan menyelesaikanya bersama. Ini kisah tentang cinta & perbedaan,
perbedaan yang tak pernah menggoyahkan cinta yang sejati, cinta dalam rasa yang
suci. Selalu abadi dalam jiwa ini.
Suatu
sore, sepualang kuliah Rahman menjemputku, mengajakku kencan. Hari ini sabtu,
jadi wajar saja kita kencan. Apalagi rumahku tak jauh dari rumahnya.
”Yang,
kita sekarang kemana?” Tanyaku didalam mobil.
“Terserah
kamu sayang, kita cari tempat yang nyaman ya, aku mau bicara sesuatu padamu”.
Jawab Rahman. Kulihat wajahnya menyimpan sesuatu yang tak ku ketahui.
“Bicara
apa? bicara saja disini!”
“Gak
ah Yang, nanti aja”
“Kamu
nyembunyiin sesuatu dari aku ya?” Tanyaku heran.
“Ah,
nanti aja ngomongnya!” Tegas Rahman.
Akupun
diam, aku sudah mengerti sifatnya itu, jika dia bilang tidak ya tidak.
Akhirnya
kita sampai disebuah kafe yang letaknya dekat kawasan puncak, tempat disini
sangat nyaman. Tak heran jika malam minggu pasti ramai. Aku memilih tempat
duduk di sudut ruangan, kemudian memesan minuman.
“Apa
yang ingin kau bicarakan Yang?” Aku mulai bicara. Rahman hanya terdiam dan
menunduk, nampak wajah gelisah menyelimutinya.
“Ada
apa sayang! Cepetan ngomong!”. Ku memaksa Rahman sambil memegang tanganya
dengan erat. Dengan menunduk dan memegang tanganku Rahman akhirnya bicara.
“Aku
mau dijodohkan Vi, dengan anak temenya papaku, maafkan aku.”
Rahman
menatapku tajam, matanya berkaca-kaca, sedangkan aku, aku terkejut
mendengarkanya, aliran darah dinadiku seolah berhenti, tubuhku kaku. Aku tak
percaya, apa yang barusan dikatakanya? Inikah balasan cinta tulusku padanya?
Aku tak mampu berkata, aku terdiam seribu bahasa. Aku tak bisa menyembunyikan
kesedihanku itu dari wajahku. Kita berbeda agama, Rahman seorang muslim
sedangkan aku seorang Kristiani. Keluargaku dan keluarga Rahman mengekang hubungan
kita, mereka tak merestuinya. Namun, aku
dan Rahman saling mencintai, kita tak bisa jauh satu sama lain. Dan kita
mempunyai tekad untuk selalu bersama sampai raga sudah tak bernyawa. Namun hal
ini, membuat aku untuk berfikir dua kali tentang tekad itu.
“Aku
masih mencintaimu Vi.” Rahman berkata dengan memegang erat tanganku.
“Tapi
kenapa kau lakukan ini Man?” kataku lirih.
“Aku
tak bisa mengelak Vi, ayahku yang
menyuruhku, mereka tak setuju dengan hubungan kita. Gara-gara kau berbeda agama
denganku. Mungkin, dengan kamu menjadi mu’alaf ayahku bisa menerimamu”.
Suasana
saat itu hening, aku hanya diam. Bagaimana ini? Haruskah aku menjadi
mu’alaf dan meninggalkan ajaran-ajaran
agama dari papaku sejak kecil? Atau aku meninggalkan cintaku? Aku tak bisa!
Kedua-duanya sama penting, ini menyangkut keyakinan dan perasaan batinku!
“Kasih
aku waktu untuk berfikir Man.” Ku tersenyum.
Setelah
makan kita berdua pulang, Rahman mengantarku didepan gang, Rahman tak berani
mengantarku sampai rumah, karena jika papaku tahu ia akan memarahiku. Kemudian
setalah ku sampai rumah, aku menuju ke kamar, merebahkan tubuhku di ranjang dan
memeluk boneka kesayanganku. Kejadian tadi masih terngiang-ngiang di kepalaku.
Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Sanggupkah meninggalkan papaku demi
cinta? siapa yang akan merawatnya? Ini tak mungkin. Tapi, bukankah dulu ibu
juga mengalami hal yg sama sepertiku? Namun dulu ibu memutuskan untuk meninggalkan keluarganya demi papaku.
Akankah aku seperti ibuku? Hari sudah malam, aku melupakan masalah itu sejenak
dan akupun tertidur.
Besoknya,
di ruang makan ku mencoba mengutarakan keinginanku kepada papa.
“Pa,”
kataku dengan wajah memelas.
“Ada
apa Vi?” Jawabnya sambil mengambil makanan.
“Pa,
aku mohon, ijinkan aku menikah dengan Rahman. Ijinkan aku menjadi mu’alaf”.
Kataku membuat papa tersedak.
“Apa
kau bilang?” Papa menatapku tajam.
“Aku
ingin menikah dengan Rahman Pa, papanya tak merestuinya jika aku tak menjadi
seorang mu’alaf, ayolah Pa, ijinkan aku. Bukankah dulu ibu juga sepertiku? Demi
cintanya pada papa ibu rela kan meninggalkan keluarganya?”
Papa
terdiam, kata-kataku membuat papa teringat akan ibu. Ibuku sudah meninggal 2
tahun lalu. Gara-gara penyakit diabetes yang dideritanya sejak lama. Papa tidak
menjawab permintaanku, ia lalu pergi tanpa kata yang keluar dari mulutnya.
Malamnya…
Rahman
menelponku, ia menanyaiku tentang tawaranya.
“Gimana
sayang?”
“Papaku
hanya diam, ia tak menjawab pertanyaanku.” Kataku lirih
“Aku
tak sanggup pisah denganmu.” Terdengar suara Rahrman menangis.
“Aku
juga, tapi jika Tuhan berkehendak, mau gimana
lagi?”
“Kita
lakukan saja yang terbaik, aku yakin Tuhan pasti mendengar keinginan kita”
“Udah
malam, tidur dulu sana”. Pintanya
“Iya
deh iya”
Tuut
tuuut tuut Rahman mematikan teleponya. Setelah itu ku termenung, memikirkan apa
rencana Tuhan. Tuhan pasti merencanakan hal yang baik untukku. Semua masalah
memenuhi kepalaku, membuatku lelah dan hampir ingin menyerah dengan keadaan.
“Viiii,
keluar sebentar! Papa mau bicara!” panggil papa dari luar. Kata-kata papa
membuat aku terbangun saat aku hamper memejamkan mata.
“Sini,
duduk sini” papa menggenggam erat tanganku.
“Ada
apa pa?” aku beranikan diri untuk membuka mulut kepada papa yang tatapanya tak
pernah lepas dariku. Seperti harimau yang tengah mengintai mangsanya.
“Kau
tidak boleh lakukan itu nak! Kau harus mengikuti ajaran papa sampai akhir
hayatmu! Apakah engkau ingin di cap murtad oleh yesus? Mengingkari ajaran salib
yang melingkari lehermu itu? Apa yang papa katakana pada pendeta di gereja
nanti? Bahwa anak papa satu-satunya telah mengingkari ajaran mereka?” Kata-kata
papa itu seperti petir yang menyambar jiwaku, jiwa yang sedang dipenuhi rasa
bimbang.
“Tapi
pa? apa papa tega membiarkan rasa cinta ini terlantar? Cinta ini sudah mendalam
pa! tolong pa, beri aku kesempatan” kataku memelas.
“Apa
kau tidak cinta papamu ini?” tatapan papa sangat tajam. Membuat diri ini
kehabisan kata-kata.
“Aku
sangat cinta kepada papa, tapiiii” belum selesai aku bicara papa menyela
omonganku.
“Tapi
apaa? Fikirkan kembali keputusanmu itu!” Papa meninggalkanku diruang tengah itu
sendiri. Aku tertunduk, menahan air mata yang hampir menetes. Jiwaku
benar-benar tergoyah, ya Tuhaan cobaan
apa yang engkau berikan? Kenapa engkau anugrahi cinta yang dalam ini jika kami
berbeda? Dengan tertunduk aku berjalan perlahan menuju kamar. Merebahkan jiwa
dari kegundahan dan merebahkan masalah yang ku alami sementara waktu.
Besoknyaa…
Rahman
mengirim sms padaku
“Jika
memang kita tidak ditakdirkan bersama, ijinkan rasa ini selalu tumbuh dihatimu,
mengalir dalam urat nadimu dan hidup dalam anganmu.”
Apa
maksudnya? Seketika aku menelfon Rahman, namun tak diangkat. Ya tuhaaan ada apa
iniii. Tanpa pikir panjang, aku langsung bergegas menuju rumah Rahman.
Sesampainya disana ada dua satpam yang menjaga pintu gerbang rumah Rahman.
Tanpa menghiraukan dua satpam itu aku mengggedor-gedor gerbang rumah Rahman.
“Rahmaaan
Rahmaaan keluar, ada apa denganmu? Apakah kau lupa dengan janjimu?” aku terus
berteriak dengan air yang mengalir dimataku.
Dua
satpam itu menggeretku dari depan gerbang. Dan mencaci makiku dengan kata yang
tak pantas di ucap. Satu kata yang masih terngiang dipikiranku yaitu “Tuan
Rahman sedang melangsungkan acara pertunangan”
Dengan
tubuh yang bergetar & cinta yang padam aku pergi. Sepanjang jalan aku
termenung. Benarkah ini akan terjadi? Cinta yang bersinar padam oleh perbedaan?
Perbedaan yang lahir dari hati nurani. Aku yakin, Rahman tak akan tega
melakukan hal seperti ini.
Malamnyaa….
Aku
berfikir jika papa menyetujuiku untuk menjadi mu’allaf pasti ayah Rahman
menyetujui hubunganku. Ku coba membujuk papaku lagi, agar ia merestuiku menikah
dengan rahman dan mengijinkanku menjadi mu’alaf. Aku sengaja mengurung diri
dikamar, mengunci pintu rapat-rapat sampai-sampai tak ada lalat yg bisa masuk.
tok
tok took “Buka pintunya Vi” kata papa dari luar. Awalnya ku enggan membuka
pintu itu, namun aku tak tega mendengar suara rintih papa yg memaksaku untuk
membuka pintu.
“Ada
apa pa?” tanyaku dengan memalingkan wajah.
“Sini
duduk papa mau bicara denganmu” senyum papa. Kemudian ku duduk disebelah papa.
“Papa
tak tega melihatmu menderita seperti almarhum ibumu dulu, papa kasihan
denganmu, sekarang semua terserah kamu. Jika kamu bahagia dengan keputusanmu
lakukanlah, papa tak mau melihatmu menderita disisa hidup papa” papa menatapku
dengan penuh perasaan. Kulihat papa meneteskan air mata, tak tega rasanya
melihat papa. Kemudian ku dekap papadan berkata “Terimakasih Pa, aku akan
selalu barsama papa, aku akan menjaga papa hingga papa kepangkuan sang Pencipta
disana”.
Setelah
mendapat restu dari papa, ku bergegas menemui Rahman ke kantornya.
“Rahman,
aku membawa berita baik untuk kita.” kataku dengan gembira setelah ku bertemu
Rahman.
“Apa
devi? Ayahmu sudah merestuinya ya? Tapi aku sudah bertunangan dengan wanita
yang dijodohkan ayah padaku” rahman
megang tanganku
“Lupakan
tunanganmu itu, apa kau menginginkanya? Ikuti kata hatimu, ikuti rasa yang
masih tumbuh dalam hatimu itu, aku mohon maaan”
Rahman
hanya tersenyum lalu memelukku.
“Antarkan
aku ke masjid Man” senyumku.
“Kamu
serius ingin jadi mu’alaf?”
“Keputusanku
sudah bulat, aku sudah memikirkan semua dengan matang Man, tolong antarkan aku”.
Kemudian Rahman terlihat mengambil sesuatu dari laci meja dan memberikanya
padaku.
“Ini
sehelai kain untukmu, aku ingin setelah kau menjadi mu’alaf kau balutkan ini
diwajahmu”. ku mengangguk, lalu kami
bergegas menuju ke masjid. Ku mengutarakan 2 kalimat syahadat, dan kini aku
syah menjadi seorang muslim. Rahman mengajariku sholat dan kewajiban lainya yang
harus ku lakukan. Aku bahagia dengan semuanya, batinku terasa tenang setelah ku
menjadi mu’alaf.
Dan
akhirnya saat itu tiba, Rahman melamarku. Ia tak jadi dijodohkan, keluarga kami
sudah saling merestui. Kehidupanku berubah sejak ku memutuskan masuk islam dan
berhijab. Semua kebahagiaan yang semu kini menjadi kisah yang berarti, cinta
yang membuatku sadar dan cinta yang membuat cerita indah itu datang.
Memang
perbedaan selalu datang, tapi cinta yang suci tak akan pernah padam, cinta yang
tumbuh bersama jiwa. Mengayun lembut alunan cinta yang menggetarkan jiwa.
Diperbudak oleh rasa? Entah itu menjadi misteri yang masih tersembunyi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar