Sayangku Musuhku
Namaku adalah Regina, biasa
dipanggil “Rere” atau “Siput” yaaa mungkin karena aku sering terlambat atau
sering tak selesai-selesai jika mengerjakan sesuatu. Makanya, julukan itu
diberikan padaku. Aku memiliki seorang kekasih bernama Randy. Kami berpacaran sejak
kelas dua SMA. Dan sekarang aku menginjak semester 2 di UNIVERSITAS Negeri
dikotaku. Waktu SMA hubunganku baik-baik saja. Seperti kupu-kupu yang sedang
bertemu pasanganya, menari kesana-kemari mengarungi indahnya dunia berdua.
Namun, lambat laun setelah kami terpisah oleh jarak semuanya berbeda. Banyak
batu-batu besar yang bertebar dalam jalan kami.
Sudah 30 menit aku menunggu, tak
seperti biasanya aku hanya menuggu 10 menit di halte ini. Tiba-tiba Randy SMS.
“Maaf, aku lagi malas keluar. Aku tidak bisa menjemputmu.”
“Iya gakpapa” balasku singkat.
Mulai saat itulah timbul
kecurigaan dibenakku. Namun hati ini terus menangkal kecurigaan itu.
Kepercayaan padanya yang masih kuat melekat dihatiku.saat kejadian itu aku dan
dia lost contact. Sudah dua hari kami tidak bertukar kabar. Aku resah, aku coba
untuk sms dia dulu.
“sayang bisakah kita bertemu?”
Aku kira dia akan membalasnya dengan cepat, namun dugaanku
salah. Malamnya, baru ia balas. Dengan kata yang paling menyakitkan yang aku
dengar.
“aku mengundurkan diri” kata penuh makna bukan? Kau
mengerti? Seketika air mata tumpah di pipiku. Aku terus mengelaknya, memoohon
pada dia agar kembali padaku. Aku tak mengerti apa yang telah aku lakukan. Aku
sungguh tak mengerti. Aku terus meronta-ronta, menelfonya, sms dengan kata
memohon-mohon, namun semua itu diabaikanya. Apakah dia benar-benar
meniggalkanku sendirian? Dengan luka yang ia berikan?
****
Dua hari setelah aku putus
denganya, aku masih berduka. Berlarut-larut dalam kesedihan yang mendalam. Tak
henti-hentinya air mata ini terus keluar. Saat malam tiba, temanku vivi datang,
dia bilang jika hari ini akan tidur denganku, di kos-kosan yang tak jauh dari
rumahnya. Dan ketika aku membuka laptop untuk mengerjakan tugas yang diberikan
oleh dosen, tiba-tiba vivi membuka situs fb dan mendapati bahwa foto profil
Randy sudah diganti dengan wanita lain, sontak tubuhku bergetar, aku benar-benar
shock. Aku tergeletak lemas dilantai, vivi yang takut dengan keadaanku
kebingungan. Dia berlari mengambil air minum dan mengipasiku. Lalu ia mencoba
menghiburku dengan kata-kata yang baik tentang randy tentunya. Aku tak
menghiraukan vivi, fikiranku saat itu tertuju pada wanita yang di foto
profilnya. Siapa wanita itu? Kekasihnya? Jadi selama ini? Randy berubah karena
wanita itu? Aku harus mencari tahu siapa dia! Aku menyuruh vivi untuk
meninggalkan aku sendiri, namun dia tak mau, dia takut dengan keadaanku. Dia
menemaniku hingga aku tertidur.
Paginya ada jam kuliah. Aku
berangkat dengan hati yang tercabik-cabik. Kesehatanku down, typusku kambuh.
Namun aku paksakan untuk berangkat, alhasil vivi membawaku ke pusat kesehatan
di kampus ini saat aku ditemukan pingsan di depan pintu. Dengan cemas, vivi
lalu mengantarku pulang. Aku meminta vivi untuk mencari siapa wanitanya randy.
Namun vivi berkata “sudahlah re, lupakan saja wanita itu, yang salah bukan
wanita itu, tapi Randy! Jika Randi orang baik pasti tidak akn lakukan ini
padamu kan?”
Aku sama sekali tak meresapi kalimat vivi. Randy tidak
salah! Wanita itu yang salah! Kenapa dia datang! Apa dia gak punya harga diri?
Sudah tahu randy sudah punya pacar!
****
Malamnya, aku menemukan siapa
wanita itu! Namanya Dea! Aku benar-benar
tak mempedulikan kesehatanku saat ini, fikiranku hanya tertuju pada dia. Tanpa
piker panjang aku mencaci makinya di messenger fbnya. Dia membalas, membalas
dengan kata-kata yang baik. Sok polos! Fikirku. Aku terus ebrpikiran negative
kepada wanita itu. Satu kata yang masih terngiang-ngiang di kepalaku adalah
“oke, aku akan menjauh dari Randi!” Ha?
Menjauh? Paling juga omdo! Tiba-tiba randy menghubungiku dan mengajakku untuk
bertemu. Ada apa ini? Seperti mimpi saja.
****
Aku menunggunya di taman dekat
kampus. Tak berapa lama, Randy menghampiriku, lalu duduk disampingku, tanpa
basa-basi Randy berkata
“Re, aku mohon padamu jangan ganggu Dea, aku tidak minta
apa-apa padamu, hanya itu saja, tolong jangan ganggu dia”
Aku menunduk terdiam, apa? Jadi Dea telah mengadu pada
Randy? Dasar wanita murahan! Aku memandangi Randy dengan pancaran cinta
dimataku.
“Tapiii, kenapa kau tega melakukan iniii. Aku masih
mencintaimu Ren”
“Benarkah? Jika kau benar mencintaiku, biarkan orang yang
kau cintai ini bahagia dengan orang lain”
“kenapa! Kenapa kau tega perlakukan aku seperti ini ren,
kenapa! Apa salahku padamu?” sebulir air mataku menetes di pipi.
“ kau mau tahu? Karena aku sudah tidak mencintaimu!” randy
lalu pergi, pergi dengan kata yang sangat menyayat hati.
Aku pulang, sepanjang jalan aku
meneteskan air mata. Pulang dengan hati yang sudah tak berbentuk. Aku kirimkan
messenger pada wanita itu lagi. Seperti biasa aku mencaci makinya. Aku
tersentak kaget saat dia membalas “kenapa? Kenapa kalau aku sayang randy? Kamu
gak terima! Iya! Jangan iri deh sama gue! Gara-gara randy lebih milih gue
daripada lo! Jangan kayak wanita gak laku deh!”
Feelingku benar kan? Dia serigala
berbulu domba! Saat aku mncaci makinya lagi, tiba-tiba randy sms “kasihan alisa
Re, dia tidak salah. Kenapa kau selalu memarahinya? Dia hanya diam kan padamu?
Kurang baik apa dia untukku? “
Apa maksudnya sms Randy ini? Diam?
Alisa hanya diam? Sekarang aku mengerti bahwa wanita murahan itu telah menjadi
serigala didepanku dan menjadi domba di depan randy! Arrggh! Wanita itu!
Aku sudah tidak tahan dengan
sikap dea. Aku mengajaknya bertemu di sebuah kafe, awalnya ia tidak mau, mugkin
karena takut namun ketika aku menyebutnya cepu akhirnya dia setuju. 10 menit
menggu alisa tidak kunjung dating, vivi yang cemas denganku mencoba meluncurkan
senyum yang terpaksa itu padaku. 20 menit kemudian, dea dating, dengan dandanan
menornya. Uuuh kampungan banget! Aku menatapnya tajam, diapun begitu,
“hey perempuan murahan! Maksudmu apa! Ganggu-ganggu pacar
orang! Gak laku ya!” tanpa basa-basi aku keluarkan kata terpedas dari mulutku.
“heh! Kenapa lo nyalahin gue! Salahin tuh pacar lo! Orang
pacar lo yang lebih milih gue daripada lo!”
“tamu gak akan masuk kalau gak dibukain pintu kan? Dasar
tolol!”
“eh, lo gak usah nyolot gitu dong! Kalo udah putus ya terima
aja! Susah amat kayak orang cerai! Kalo gak laku bilang dong! Ntar gue cariin!”
Suasana semakin memanas, aku hirup nafas dalam-dalam mencoba
menahan amarah yang semakin meluap. Vivi hanya diam, ia tak berani ikut campur
dengan urusanku.
“ kenapa bengong? Benarkan omongan gue! Sudahlah terima
kenyataan saja! Emang randy gak suka lo kok!”
Sudah! Cukup! Aku tidak bisa mengontrol emosiku, aku raih
jilbabnya lalu menjambaknya dengan kuat!
“Dasar perempuan gak tahu diri! Dasar PHO! Perempuan
murahan! Berani-beraninya ganggu hubunganku! Emang aku salah apa ke kamu!”
dea membalas menjambakku, suasana saat itu pecah dengan
perkelahian kami. Vivi meleraiku “sudah, sudah malu dilihat banyak orang Re!”
aku mengabaikanya aku masih menjambak jilbab dea dengan kuat.
“Sudah Re! hentikan!” tiba-tiba randy dating, menghempaskan
tanganku di kepala dea dengan kuat. Randy lalu memeluk dea. Kau mau tahu
bagaimana perasaanku saat itu? Seperti vas bunga dari kaca yang terjatuh dari
gedung bertingkat. Mungkin lebih dari itu. Sebulir biji air mataku menetes,
vivi memelukku yang sudah seperti patung di depan mereka. Pancaran mata dea
yang licik itu terlihat menyembunyikan tawa. Aku berlari, menarik tangan vivi
keluar, dan menangis histers di pelukan vivi.
****
Satu minggu berlalu, setelah
kejadia memilukan itu, aku mendengar jika Randy sudah jadian dengan dea. Aku
mencoba tegar, mencoba untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan dan menjadi
wanita kokoh yang berdiri di terpaan badai salju. Aku mencoba memposting semua
isi hatiku di blog, fb maupun twitter. Namun, Randy tak memperdulikanya. Cukup!
Sudah cukup! Aku tahu bahwa hubungan seseorang tak akan bertahan lama jika
berpangku pada penderitaan orang lain.
Lama-kelamaan rasa sayangku kepada randy menjadi musuh,
musuh yang membunuh hati ini perlahan. Aku ingin melepasnya tuhaan… melepas
rasa sakit ini, membebaskan hati yang terpenjara ini!
Kau benar kasih, hati ini tak
akan mampu berjalan sempoyongan melawan kerasnya hidup dan karpet merah penuh duri
yang telah digariskan itu. Jiwa ini meronta-ronta menyebut namamu disaat kalu
telah menyebut nama bidadari dambaanmu. Lantas? Inikah amarah cinta? Inikah
arti cinta sesungguhnya? Aku membencimu, sangat membencimu, membenci sikapmu
yang tak ubahnya seperti serigala. Kau telah merusak segalanya, merusak
kebahagiaan dan hati ini. Kau benar musuh dalam hidupku, musuh yang harus aku
singkirkan dengan cinta. Aku benar-benar
membencimu. Namun, ada satu hal yang tak bisa aku elakkan. Kau tahu itu? Rasa
yang kau tanam masih tumbuh subur saat musim gugur. Selamat jalan, selamat
jalan pujaan hatiii.. pergilaah.. taruhkan dunia ini dengan wanita pilihanmu
itu..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar